Menikmati musim semi di Jepang, 2-11 April 2019 (1)

Menikmati musim semi di Jepang,  2-11 April 2019, Part 1.

Sejak beberapa tahun yang lalu saya sering menyimpan artikel perjalanan dan info tentang Jepang yang muncul di timeline fb saya, apalagi sejak Jepang memberikan kemudahan bagi WNI pemegang e-passport cukup dengan visa waiver.  Saya selalu berharap suatu saat bisa menikmati keindahan musim sakura di Jepang. Saking kepinginnya jalan-jalan ke Jepang, meski belum tahu kapan saya bisa pergi, pada bulan Nov 2016 saya mengganti passport biasa dengan e-passport 😊

Dengan sedikit nekat akhirnya saya membeli tiket ke Jepang untuk perjalanan awal April 2019. Ya sedikit nekat karena Maret-April pekerjaan lebih sibuk dibanding bulan lainnya dan saat itu juga sedang tidak ada promo tiket murah. Setelah membandingkan harga tiket dari beberapa maskapai harganya hampir sama dan masih lumayan mahal untuk ukuran saya, supaya “tidak rugi” saya memilih maskapai Cathay Pacific dengan waktu transit yang cukup untuk city tour ke Hongkong. Kenapa Hongkong? Karena jalan-jalan ke Hongkong buat saya adalah wacana lama yang tidak kunjung terealisasi. Ya, duluuu sekali pingin juga main ke Hongkong, tapi lama-lama keinginan tersebut hilang tergantikan keinginan pergi ke tempat-tempat lain yang sepertinya lebih menarik. Nah supaya Hongkong tidak hanya menjadi wacana saja, cukuplah city tour saat transit, setidaknya pernah mampir cap passport 😀

Setelah tiket dibeli, jadwal fixed. What’s next? Menyusun itinerary dan reserve hotel tentunya. Bulan April termasuk peak season untuk wisata di Jepang, jadi harus reserve penginapan dari jauh-jauh hari supaya masih dapat harga normal. Jepang itu negeri Sakura.  Jadi buat saya yang baru mau pertama kali ke Jepang, pingin sekali bisa ikut menikmati Hanami, piknik saat sakura blooming di sana.

Perkiraan sakura blooming baru mulai dipublikasikan sekitar bulan Februari. Awalnya saya menyusun itinerary dan memesan hotel di awal Desember. Nah setelah perkiraan sakura blooming diterbitkan saya menyesuaikan kembali itinerary yang sudah saya buat, tentunya sekaligus mengubah penginapan yang sudah saya pesan sebelumnya. Saya memesan penginapan menggunanakan aplikasi booking.com yang free cancellation, tidak masalah untuk mengubah tanggal dan membatalkan pesanan. Namun yang menjadi masalah adalah soal ketersediaan dan harga yang naik dua kali lipat dibanding harga sebelumnya. Yah, ini salah satu konsekuensi jalan-jalan saat peak season di tempat yang akan kita tuju. Pilihannya pindah penginapan lain yang masih masuk dalam budget meskipun mungkin lokasi lebih jauh dibanding yang dipesan sebelumnya atau menyesuaikan budget dengan harga baru.

Itinerary trip saya kemarin secara garis besar adalah sbb : Narita Airport-Tokyo-Kanazawa – Shirakawago – Kanazawa – Kyoto – Osaka – Kyoto – Kawaguchiko – Tokyo- Narita Airport, seperti tergambar dalam maps berikut ini.

IMG_1416Rinciannya itinerarynya kira-kira

  1. Day-1       : Narita-Tokyo. Menikmati musim Sakura [Shinjuku Gyoen, Meguro river Illumination]
  2. Day-2   : Tokyo, Menikmati musim Sakura [Meguro river, Ueno Park], Tokyo-Kanazawa
  3. Day-3 : Kanazawa & Shirakawago tour. Kanazawa-Shirakawago-Kanazawa-Kyoto
  4. Day-4 : Osaka Tour [Osaka Castle]
  5. Day-5 : Kyoto Tour [Arashiyama, Sagano Romantic Train, Kiyomiyu-dera Temple light up]
  6. Day-6 : Kyoto Tour [Jalan pagi dan memotret temple di dekat St. Kyoto, Fushimi Inari, Tokufuji Temple]. Kyoto-Kawaguchiko
  7. Day-7 : Kawaguchiko tour. [Jalan pagi ke Kawaguchiko lake side, Wind Cave & Ice Cave, Motosuko Lake [Blue Line & Red bus tour]
  8. Day-8 : Mt. Fuji tour [Chureito Pagoda, Kawaguchiko Lake, Yagisaki Park, Iyashi No Shato, [Green Line & Red Line bus tour]. Kawaguchiko-Tokyo
  9. Day-9   : Hujan-hujanan di Tokyo (Keliling St. Tokyo)
  10. Day-10 : Tokyo morning tour [Tokyo Imperial Palace, Ueno Park]

Karena saya pindah-pindah kota dan penginapan, untuk keperluan transportasi selama di Jepang saya menggunakan :

  • JR Pass 7hari seharga JPY 29.110 yang dibeli di Jakarta, sebulan sebelum keberangkatan
  • Bus untuk Kanazawa-Shirakawago-Kanazawa yang dibeli secara online H-30 dengan harga JPY 4.000, pembayaran menggunakan kartu kredit.
  • Kartu Suica (semacam e-money) untuk pembayaran tiket kereta/bus yang tidak menggunakan pass
  • Bus Day Pass di Kyoto seharga JPY 600
  • Bus Day Pass di Kawaguchiko seharga JPY 1.500 berlaku untuk 2 hari.

Saya mulai mengaktifkan JR Pass di hari kedua dan aktive sampai hari ke-8 karena pada hari tersebut saya ada perjalanan antar-kota. Hari pertama dan dua hari terakhir saya menggunakan Suica, karena saya hanya berkeliling di sekitar Tokyo.

Saat menyusun itinerary dan selama dalam perjalanan saya menggunakan aplikasi JapanTravel by Navi time dan JapanOfficial TravelApp by Japan National Tourism Organization (JNTO). Kedua aplikasi ini sangat penting untuk mengetahui rute kereta/bus, termasuk kereta cepat Shinkansen. Kita tidak perlu ruwet membaca peta rute kereta ataupun menghapal jadwal kereta.  Cukup dengan memasukkan nama tujuan dari mana (from) xxx mau ke mana (to) xxx maka akan muncul berbagai pilihan sarana transportasi, lengkap dengan informasi harga, jam keberangkatan, waktu tempuh dan jam ketibaan, termasuk tempat dan waktu transit jika harus berpindah jalur.

Selain kedua aplikasi tersebut, Maps juga sangat membantu saya untuk memandu rute jalan yang harus ditempuh dengan berjalan kaki, seperti dari station menuju hotel dan sebaliknya, dari hotel ke tempat wisata, tempat makan dll. Selama di jepang saya benar-benar mengandalkan maps sebagai pemandu dan teman perjalanan yang setia 😊

Karena ketergantungan dengan maps dan aplikasi JapanTravell, maka koneksi internet dan HP selalu hidup adalah keniscayaan. Untuk koneksi internet saya mengaktifkan XL Pass 7 hari + 3 hari dan menggunakan paket data (langganan) yang saya gunakan di Indonesia. Powerbank juga menjadi kebutuhan saya selama perjalanan, karena rata-rata saya keluar dari penginapan pagi hari dan balik sekitar jam 20 atau 21 dan saya tidak melihat adanya fasilitas “colokan listrik” di tempat-tempat makan atau tempat wisata. Fasilitas charger tersedia di Shinkansen, kereta cepat jarak jauh. Untuk kereta lain, termasuk di bus menuju shirakawago saya juga tidak menemukan adanya charger. Dan jangan lupa bentuk colokan di Jepang beda dengan Indonesia, universal charger jangan sampai ketinggalan.

Dari seringnya baca berbagai sharing/cerita tentang turis ditolak masuk jepang, kena random check dll, juga untuk jaga-jaga kalau HP mati atau internet off, saya mempersiapkan document perjalanan dan itinerary lengkap dalam bentuk hardcopy.

  • Print out booking tiket PP
  • print out bookingan bus
  • print out booking hotel
  • itinerary detail termasuk rute kereta
  • catatan kereta yang harus reserve seat
  • maps/ info akses dr station menuju hotel
  • copy passport

Alhamdulillah saat hari H, tiba di bandara Narita antri di Immigrasi sebentar, petugas langsung cap passport tanpa bertanya apa-apa. Yeaaa.. akhirnya sampai juga di Jepang 😊

Day-1 : Arrival Day, menikmati musim sakura di Tokyo.

Selesai proses immigrasi saya bergegas ke loket Keisei untuk membeli tiket menuju St. Ueno. Karena hari ini belum akan menggunakan JR pass saya memilih menggunakan Kesei line yang lebih murah dibanding menggunakan Narita Express (JPY 1.030 vs 3.220). Jadwal perjalanan dari Narita airport jam 7.42, saya masih punya waktu sekitar 25 menit sebelum keberangkatan.

Melihat loket JR yang ada di depan loket Keisei, saya menuju ke loket JR untuk menukarkan voucer JR Pass untuk diaktifkan mulai besok. Semula saya bermaksud  sekaligus memesan tempat duduk di kereta yg tertulis “reserved seat” untuk hari selanjutnya sesuai rencana perjalanan saya. Sayangnya di loket JR tersebut hanya melayani untuk pemesanan tempat duduk di hari yang sama. Pemesanan untuk hari-hari berikutnya bisa dilakukan di kantor JR yang ada di sisi lain. Jadwal Keisei tinggal sebentar lagi, saya tidak jadi melakukan reservasi tempat duduk JR Pass, saya segera masuk Peron dan menunggu kereta datang.

Waktu tempuh Kesei Main Line dari Narita Aiport terminal 2 ke St. Keisei Ueno sekitar 70 menit. Tiba di St Ueno selanjutnya saya berjalan kaki menuju hotel dengan panduan maps. Dari applikasi JNTO tertulis jarak dari st Keisei Ueno sampai Sadou Hostel, tempat saya menginap sekitar 700m. Tapi rasanya lebih jauh. Seperti biasa, ketika tiba di tempat yang baru dan belum orientasi tempat kadang sedikit blank belum tau arah ditambah capek dan lapar setelah menempuh perjalanan jauh. Perjalanan panjang beruntun sejak Jum’at dari Serpong-Kutoarjo, lalu Minggu pagi Kutoarjo-Serpong dengan kereta api,  kemudian Senin dini hari menuju bandara. Flight Jakarta-Hongkong, muter-muter di Hongkong lanjut lagi flight Hongkong-Narita. Hmmm… rasanya pingin cepat-cepat mandi dan rebahan 😁.

Alhamdulillah meski masih bingung baca panduan maps -yes saya gagap baca peta, termasuk peta digital-, apalagi saat ada persimpangan jalan makin bingung saya, akhirnya sampai juga di lokasi penginapan. Di Sadou hostel saya menginap di female dorm. Saya sampai di hotel sekitar jam 10.00, belum waktu check in. Rata-rata waktu check in hotel di Jepang jam 15.00. Meski begitu saya boleh menitipkan tas juga menggunakan fasilitas kamar mandi/toilet. Jadi setelah mengurus administrasi pembayaran dll, saya segera menyegarkan diri. Selesai mandi istirahat sejenak di ruang tunggu sambil membaca brosur info wisata dan peta sekitar hotel. Dari brosur tersebut saya memperoleh info restaurant ramen halal yang ada di sekitar hotel. Ayam-Ya halal ramen namanya.

Jarak dari hotel ke restaurant tersebut sebetulnya tidak terlalu jauh, masih lebih jauh jarak stasiun ke hotel, tapi karena saya salah baca peta, sempat bolak balik dan salah arah jadinya agak lama baru ketemu lokasi restaurant tersebut. Saya tiba di restaurant tersebut sekitar jam 11.30, menjelang jam makan siang. Untuk pemesanan menggunakan mesin semacam vending machine, nanti keluar tiket sesuai menu yang kita pesan. Restaurant tidak terlalu besar, ada 2 lantai. Lantai bawah tempat mesin pemesanan dan tempat memasak. Di depan pantry ada tempat untuk makan cukup untuk 3-4 kursi. Tempat makan utama ada di lantai atas. Saat saya datang di lantai bawah ada 2 orang customer pasangan muslim dari Thailand yang sedang menikmati menu yang dipesan. Karena sendiri dan di bawah masih ada bangku kosong, saya dipersilahkan duduk di bangku tsb. Tidak berapa lama datang rombongan sekitar belasan orang, yang sudah melakukan reservasi sebelumnya. Tamu dari Thailand selesai lebih dahulu dan segera meninggalkan restaurant. Saat saya masih menikmati ramen datang rombongan lain satu keluarga yang belum bisa duduk karena lantai atas penuh.

Selesai menikmati ramen saya segera meninggalkan restaurant dan berjalan kaki menuju stasiun Ueno. Kali ini saya menuju kantor JR yang ada di station Ueno untuk melakukan pemesanan tempat duduk untuk semua jadwal kereta sesuai rute saya untuk 7 hari ke depan. Ya saya sudah menyiapkan daftar kereta (Shinkansen) dari St X ke St Y jam sekian  dst sampai akhir perjalanan yang tercover JR Pass Saat memesan saya tinggal serahkan daftar tersebut ke petugas. Tidak butuh waktu lama saya memperoleh lembaran-lembaran tiket seat reservation. Selain itu saya juga membeli kartu Suica yang berfungsi seperti e-money, untuk membayar tiket kereta/bus yang tidak tercover JR Pass atau pass yang lain. Saat mengisi suica card ada pilihan nilai nominal kartu. Saya memilih JPY 5.000 (dengan saldo 4.500 & harga kartu 500). Kartu suica bisa ditop-up ulang melalui mesin top-up yang tersedia di berbagai tempat seperti pintu masuk stasiun.

Tujuan saya hari pertama ini adalah menikmati sakura bloom di Shinjuku Gyoen dan di Meguro River. Dari St Ueno semula saya akan langsung ke St. Shinjuku untuk Ke Taman Nasional Shinjuku Gyoen. Tapi akhirnya dari St. Ueno saya mampir ke Shibuya yang terkenal dengan zebra crossnya yang sibuk juga patung hatciko. Hanya mampir sebentar dan jepret satu dua frame tapi tidak bisa photo diri karena ramai antrian. Yah setidaknya saya tahu oo ini yang namanya Shibuya crossing hehehhe. Saya segera kembali ke stasiun dan menuju Shinjuku Gyoen.

Shinjuku Gyoen dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 10-15 menit dari St. Shinjuku. Pada bulan April buka dari jam 09.00-18.00 dengan tiket masuk sebesar JPY 500/org. Karena saya tiba menjelang jam 16.00 loket masuk tidak begitu ramai, tetapi di dalam taman masih ramai pengunjung.

Begitu masuk area taman, pengunjung disuguhkan bunga sakura yang cantik dan bermekaran dengan indahnya. Ya inilah sakura blooming. Saya keliling dari satu pohon ke pohon lain, menanti sedikit sepi untuk bisa photo selfi di bawah pohon sakura. Pengunjung dari berbagai kalangan usia terlihat asyik menikmati sakura blooming dengan berphoto ria. Ada juga yang mengabadikan keindahan bunga sakura dalam sket-sket lukisan maupun jepretan kamera.

Hawa dingin musim semi ditambah terpaan angin yang bertiup sore itu terasa cukup menggigit. Tak lama kemudian hujanpun turun menyapa, menambah hawa dingin semakin dingiin. Saat hujan turun banyak pengunjung yang keluar. Saya sendiri masih menunggu di dalam taman dan berharap hujan reda agar dapat moment sepi untuk bisa memotret dengan lebih leluasa. Tidak lama setelah hujan reda terdengar pengumuman di microfon bahwa taman akan segera tutup dan jam kunjungan berakhir. Saya segera kembali ke stasiun untuk menuju ke tempat lain.

Dari St. Shinjuku saya menuju ke St. Meguro untuk menikmati Sakura di malam hari. Selama musim sakura blooming ada light up/ illumination di meguro river. Untuk menuju Meguro river bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari St Meguro atau St. Naka Meguro. Saya berjalan kaki dari St. Meguro sekitar 10-15 menit. Sampai di Meguro river terlihat beberapa pengunjung yang juga sedang menikmati sore dan photo-photo sakura yang terlihat lebih indah dengan cahaya lampu. Saya berjalan sebentar dan menyusuri pinggiran sungai meguro dan mengambil beberapa photo. Sayangnya angin bertiup lebih kencang dibanding sore tadi. Hawa dingin semakin terasa. Saya tidak membawa sarung tangan karena tidak mengira akan sedingin itu. Semakin lama di luar semakin terasa kedinginan. Untuk mengurangi hawa dingin, saya singgah di mini market terdekat, memesan kopi hangat dan membeli pisang. Niatnya mau cari roti atau biskuit tapi saya tidak menemukan yang berlabel halal. Jadilah pisang yang aman untuk makan malam dan membeli buah untuk sarapan besok pagi. Setelah tidak lagi kedinginan saya keluar, berjalan kaki menuju St. Meguro dan kembali ke St. Ueno. Di dalam kereta terasa lebih hangat apalagi dengan mesin pemanas yang diaktifkan. Sampai di St Ueno, dalam itinerary awal saya rencanakan untuk mampir ke Ueno Park yang saat itu sudah ada jadwal light up juga. Namun rencana tersebut kalah oleh rasa ingin segera istirahat dan tidur.

Begitu tiba di hotel dan masuk kamar satu hal yang harus segera saya lakukan ada charge semua gadget, HP, Powerbank dan battery kamera. Baru kemudian bersih-bersih dan bersiap tidur 😊

Hari pertama, semua berjalan sesuai rencana, tapi skip satu tempat, Ueno Park. Hotel dan tempat tidur -meski kamar dorm- cukup nyaman, kamar mandi & toilet bersih dan luas, receptionist cukup ramah dan informatif. Kalau menginap di daerah Ueno lagi saya tidak ragu-ragu untuk menginap kembali di sini. Harga kamar sudah termasuk sarapan (light breakfast), teh/kopi, roti

Day-2 : Halfday Tokyo tour dan melanjutkan perjalanan ke Kanazawa

Hari ini saya punya waktu setidaknya sampai jam 14.30 untuk berkeliling sekitaran Tokyo sebelum jam 15.30 naik kereta ke Kanazawa.

Karena semalam belum puas photo-photo di Meguro river, pagi ini tujuan pertama saya langsung ke Meguro river dengan harapan masih dapat suasana sepi agar bisa selfi-selfi dengan lebih leluasa. Lagi-lagi saya skip Ueno Park di pagi hari ini karena saya tidak bisa keluar pagi-pagi sekali. Sampai di Meguro river benar masih relative sepi, hanya ada satu dua orang yang berjalan pagi atau berolah raga di pinggir sungai. Makin siang makin ramai dengan pengunjung. Hawa udara pagi diterpa matahari yang mulai bersinar sangat menyegarkan dan hangat. Tidak kedinginan seperti semalam. Setelah puas photo-photo dan keliling ke beberapa spot saya berniat kembali ke St Ueno, makan siang di tempat sebelumnya (Ayam-Ya) lalu kembali ke hotel untuk mengambil tas kemudian ke Kanazawa.

Saat berjalan ke arah St Meguro saya iseng googling untuk mencari makanan halal di sekitar St Meguro saja, siapa tahu ada dan bisa menikmati makanan lainnya. Dan ketemulah info “Restaurant Cabe Meguro”, sebuah restaurant Indonesia halal yang berlokasi tidak terlalu jauh dari St Meguro. Dengan panduan maps saya berjalan ke arah restaurant tersebut. Begitu masuk restaurant seperti bukan berada di Jepang, atmosfer khas Indonesia, alunan musik Indonesia dan disambut dengan ramah oleh pengelola restaurant yang juga orang Indonesia.

Di sini saya memesan nasi pecel ayam, kembali ke selera asal, hhahahha. Banyak pilihan menu, dari camilan sampai makanan berat dengan harga yang bervariasi. Di sini juga ada fasilitas ruang sholat. Pengunjung restauran ternyata tidak hanya orang Indonesia. Banyak juga orang Jepang yang makan di sini.

Setelah kenyang dengan nasi pecel ayam dan numpang sholat saya berjalan kembali ke St Meguro untuk menuju ke St Ueno. Agar tidak penasaran dengan Ueno Park setibanya di St Ueno saya sempatkan mampir Ueno Park terlebih dahulu. Tentu karena sudah siang, Ueno Park ramai sekali pengunjung yang piknik, Hanami di bawah pohon sakura. Seru melihat keramaian tersebut. Saya tidak berlama-lama di Ueno Park karena jam sudah menunjukkan jam 14.30 saya harus segera berjalan kembali ke hotel. Oh ya jam chek out hotel di Jepang rata-rata terakhir jam 10.00-11.00. Pagi tadi sebelum keluar saya menitipkan tas di lobby receptionist & mengembalikan kunci. Saya berjalan cepat ke hotel, mengambil tas, repacking bawaan dan kembali lagi ke St Ueno. Jika tidak ingin bolak balik ke hotel, bisa saja pagi tadi saya menitipkan tas di koin loker stasiun, untuk loker besar bayar 700 JPY. Saya memilih untuk titip di hotel yang gratis 😊

Saat tiba kembali di St Ueno saya masih punya cukup waktu untuk menunggu kereta Hakutaka jam 15.30. Meski begitu saya langsung masuk ke peron dan duduk di bangku yang tersedia. Sambil menunggu bisa photo-photo kereta shinkansen lain yang jadwal sebelumnya.

Kereta tiba kira-kira 5-10 menit sebelum keberangkatan untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Saya menuju ke gerbong dan seat yang tertera di tiket. Tepat jam 15.30 kereta berangkat. Perjalanan dr St Ueno ke Kanazawa ditempuh selama sekitar 3,5jam. Kereta dihadwalkan tiba Jam 18.24 di St. Kanazawa. Ini pertama kalinya saya naik Shinkansen, kereta cepat jarak jauh. Sepanjang perjalanan mulus, hampir tidak terasa adanya goncangan roda kereta dengan rel meski kereta berjalan dengan cepat.

Oh ya, saya ke Kanazawa untuk transit besok pagi akan melanjutkan tour ke Shirakawago. Dalam itinerary awal saya, semula saat tiba di Narita Airport saya akan langsung ke Kanazawa dan melanjutkan tour Shirakawago di hari kedua, tour di Tokyo saya tempatkan di bagian akhir perjalanan. Namun karena melihat jadwal Sakura blooming di Tokyo awal April, saya sempatkan setengah hari pertama dan kedua untuk menikmati indahnya Sakura di Tokyo sebelum nanti pada rontok tertiup angin.

Untuk perjalanan ke Shirakawago bisa juga ditempuh PP dari Tokyo, tetapi waktunya akan lebih lama di perjalanan dibandingkan waktu tour. Untuk menghindari hal ini saya memilih untuk menginap semalam di Kanazawa, mencicil perjalanan.

Saya tiba di St Kanazawa saat senja menjelang dan langit senja masih sangat bagus. Tapi saya melewatkan moment tersebut, tidak sempat mengambil photo karena ragu-ragu saat mau mengeluarkan tripod. Tapi akhirnya sempat memotret saat blue hour.

Di Kanazawa saya menginap di hotel Trend Ekimai, yang lokasinya tidak jauh dari St. Kanazawa. Namun lagi-lagi saya gagal paham membaca panduan maps malah berjalan ke arah sebaliknya, setelah 10 menit berjalan baru menyadari kalau jarak menuju hotel semakin menjauh. Saya segera putar haluan dan kembali ke arah yang benar. Di sini saya menginap di kamar single room yang lengkap dengan kamar mandi & bath-up di dalamnya. Sampai di hotel, proses check in sebentar saya segera ke kamar dan bersiap untuk istirahat sampai pagi menjelang.

Day-3, Tour Shirakawago. Kanazawa-Shirakawago-Kanazawa-Kyoto.

Untuk tour Shirakawago saya memesan bus Nohi yang keberangkatan kedua, jam 8.40. Bus pertama jadwal jam 8.10. Saya sengaja memilih jam ke-2 karena rencananya pagi hari sebelum ke Shirakawago saya akan berkeliling sekitar St. Kanazawa, syukur-syukur bisa mampir dan motret di Kanazawa Castle.

Tadi malam saya sempat browsing jadwal bus di sekitar Kanazawa. Dari table yang saya baca bus JR tujuan Kanazawa Castle  pertama sekitar jam  6.30 pagi dengan waktu tempuh sekitar 10-15 menit saja. Saya check out dari hotel sebelum jam 6.00 lalu menitipkan tas di recepsionis hotel dan segera menuju stasiun.

Loket bus ada di pintu keluar arah Kenrokuen (sisi depan), sebaliknya dari hotel saya ke stasiun dari pintu sisi belakang. Stasiun Kanazawa pagi itu masih sepi dan belum terlihat bus yang ada di tempat keberangkatan. Loket penjualan tiket bus juga masih tutup. Saya berkeliling di depan St Kanazawa dan cross check lokasi pemberangkatan bus yang akan menuju Shirakawago nanti, juga jadwal bus JR untuk ke Kenrokuen/Kanazawa Castle. Ternyata bus pertama baru mulai jam 7 lewat. Sambil menunggu saya berkeliling di sekitar stasiun sambil iseng jepret-jepret. Sayangnya pagi itu sedikit mendung. Selain itu saya juga ke kantor JR di St Kanazawa untuk reservasi tiket menuju Kyoto dengan jadwal yang lebih malam dibanding yang sudah saya pesan sebelumnya. Ini untuk mengantisipasi karena sepulang dari Shirakawago saya berniat untuk balik lagi ke Kanazawa Castle.

Saat menjelang jam 7, bus JR sudah standby di tempatnya, saya segera naik. Tepat sesuai jadwal keberangkatan bus segera melaju. Setelah melewati beberapa titik pemberhentian, bus tiba di halte Kenrokuen, saya turun dan melihat arah menuju Kanazawa Castle. Baru berjalan sebentar hujan turun rintik-rintik. Saya berlari ke arah loket penjaga dengan maksud membeli tiket masuk. Tapi ternyata untuk masuk ke Kanazawa Castle  free. Melihat say tidak mengenakan Payung, petugas yang berjaga meminjamkan payung yang saya terima dengan senang hati. Di tengah hujan dan terpaan angin dingin saya segera masuk dan berkeliling sebentar. Mengingat waktu saya terbatas untuk mengejar jadwal bus menuju Shirakawago jam 8.40. Jika tertinggal otomatis tiket bus akan hangus.

Saat hendak kembali ke halte saya mampir ke loket penjaga dan menemukan petugas telah berganti. Karena saat itu masih hujan saya menuju loket penjaga untuk meminta izin payung yang tadi dipinjamkan untuk saya bawa 😁. Kalau ga boleh diminta ya akan saya kembalikan. Ahamdulillah dikasih. Sayangnya saat naik bus dan buru-buru turun di St Kanazawa saya lupa karena payung diletakkan di dekat pintu masuk (pintu depan), saat turun lewat pintu yang berbeda). Melihat jam sudah menunjukkan jam 8.35 saya buru-buru berlari untuk mengejar bus yang sudah siap-siap berangkat dan tinggal sedikit penumpang yang antri naik. Saya kebagian antrian terakhir. Sepanjang perjalanan dari Kanazawa-Shirakawago selama sekitar 2 jam, didominasi cuaca yang mendung. Saat jarak sudah mendekati tujuan cuaca cerah dan masih terlihat salju menyelimuti pepohonan dan sisi jalan. Akhirnya sampai juga di Shirakawago, salah satu Kawasan Unesco world heritage yang sangat populer.

Melipir ke Hongkong, city tour saat transit

Melipir ke Hongkong, city tour saat transit

Hongkong, salah satu kota yang duluuu pingin sekali saya kunjungi ketika awal punya passport. Alasannya sederhana, pingin main ke kota di luar ASEAN yang bebas Visa kunjungan untuk WNI. Dan Hongkong salah satu yang memenuhi kriteria tersebut. Pernah sih dulu sudah menyusun rencana dan berniat memesan tiket, saat itu ada Mandala Air/Tiger Air yang jadwal dan budgetnya cocok. Sayangnya ketika berniat merealisasikan rencana tersebut Mandala Air tutup. Jadilah rencana trip ke Hongkong tetap menjadi wacana. Seiring berjalannya waktu makin banyak penerbangan murah, tiket promo dari berbagai maskapai dengan rute CGK-HKIA, tapi entah kenapa keinginan untuk main ke Hongkong sudah tidak sebesar dulu, malah lebih tertarik melihat rute ke tempat-tempat lain, seperti Jepang misalnya.

November 2018

Saya mulai membaca dan mencari tahu tentang trip ke Jepang terutama sejak mereka menerapkan Visa waiver untuk WNI pemegang e-passport. Alasannya sama seperti sebelumnya, pingin main ke negara di luar ASEAN yang ga perlu ribet mengurus Visa.  Dan Jepang, identik dengan Sakura. Pingin sekali bisa main ke Jepang saat sakura blooming, sekitar bulan Maret-April. Hmmm.. hal yang sulit untuk saya lakukan kalau melihat rutinitas pekerjaan di bulan-bulan tersebut. Tapi setelah saya memilih untuk mengurangi aktivitas pekerjaan selama beberapa tahun terakhir ini, November tahun lalu saya memberanikan diri untuk memesan tiket perjalanan ke Jepang saat musim sakura 2019. Sedikit nekat tentu saja. Ada banyak pilihan maskapai dengan rute CGK-Tokyo Narita/Haneda, dari yang full services sampai yang low cost, baik yang langsung maupun transit di negara lain. Nah saat melihat-lihat aneka pilihan tiket tersebut saya memilih Cathay Pacific dari CGK-NRT dengan pilihan transit di Hongkong sekitar 12 jam. Karena tiket yang saya beli bukan tiket promo-promo amat, jadi saya ga mau rugi, sekali trip bisa merealisasikan wacana yang tertunda sekian lama. Biar pernah ke Hongkong juga gitu 😀 Continue reading “Melipir ke Hongkong, city tour saat transit”

Belajar Solo Travelling ke Turki, 25 Oct-5 Nov 2018.

Part 1 : Itenerary, Akomodasi, Transportasi dan Nilai Tukar

Yes, finally I did it. Solo travelling 15 hari.  Masih belajar bangetlah, bisa dibilang ini pengalaman solo trip pertama. Meski sebelumnya pernah solo trip ke Nepal, tapi beda. Saat ke Nepal tiba di bandara saya sudah dijemput teman yang juga tour operator. Lalu selama hiking juga didampingi guide/porter. Pulangpun sudah diantar sampai bandara, karena saya ambil paket private hiking trip dari tour & travel.

Nah untuk perjalanan ke Turki kemarin, saya belajar untuk mengatur perjalanan secara mandiri. Mulai dari memilih hotel yang akan ditempati, memilih moda transportasi yang akan saya gunakan sampai menyusun itinerary perjalanan semua saya rencanakan sendiri berdasarkan referensi dari berbagai sumber di internet, dari grup FB Backpacker Intenational, beberapa blog dan juga review dari tripadvisor.com, booking.com dll.

Karena sudah lama saya ingin ke Turki namun belum juga terealisasi, sekitar bulan Februari 2018 saya nekat memesan tiket ke Turki untuk  tgl 25/10-5/11. Bukan tiket promo memang, hanya masih dapat harga early bid dari SQ. Untuk perjalanan yang lebih dari satu minggu saya harus memilih tanggal yang paling pas dengan aktivitas saya agar selama dalam perjalanan tidak banyak terganggu dengan pekerjaan atau hal-hal lainnya. Selain itu saya juga berharap tidak banyak pihak yang terganggu dengan kepergian saya. Dengan kondisi demikian berharap dapat tiket harga promo ke kota yang ingin saya tuju pada tanggal yang sesuai dengan keinginan saya bagai mengharapkan hujan di musim kemarau, jarang-jarang terjadi. Tapi mungkin juga karena saya tidak ahli dan tidak sabar dalam berburu tiket promo. Continue reading “Belajar Solo Travelling ke Turki, 25 Oct-5 Nov 2018.”

Rinjani Trekking, Mei 2018 (2)

keep calm and camp on
Keep Calm and Camp On..

Setibanya kami di pos II tenda telah siap berdiri. Bapak-bapak Porter yang tiba lebih dulu dengan sigap menyiapkan tenda lalu selanjutnya bersiap untuk memasak makan malam. Sambil menunggu makan malam kami bersantai sejenak di Gazebo menikmati langit senja nan menawan. Saya mencoba mengabadikan keindahan senja dengan mengambil beberapa photo, tapi sayangnya hasilnya kurang bagus karena sudah menjelang gelap, saat ambil sedikit long-speed banyak pengunjung yang berlalu lalang di Gazebo sehingga blur. Gak mungkin juga untuk “ngusir” mereka khan? jadi lebih baik kita  lupakan photo dan cukuplah menikmati suasana sore ini dengan lensa mata.

Hawa angin dingin petang itu semakin terasa, saya segera masuk tenda dan bersih-bersih, berganti baju hangat agar tidak kedinginan. Selanjutnya menikmati makan malam yang telah disiapkan bapak porter. Setelah itu saya berniat untuk segera istirahat, tidur dan menyiapkan energi untuk trekking hari ke-2. Meski berusaha keras untuk bisa segera tidur, tapi nyatanya tak mudah buat saya untuk tidur saat masih cukup sore. Padahal malam sebelum berangkat saya terjaga semalam suntuk. Iya, salah satu ‘kebiasaan buruk’ saya, setiap kali akan melakukan perjalanan dengan pesawat pagi saya khawatir kalau esok pagi bangun kesiangan dan ketinggalan pesawat, sedangkan untuk tidur lebih awal juga tidak mudah, jadilah saya lebih sering begadang sebelum pergi. Namun demikian, tetap saja saya lebih suka memilih penerbangan pagi hari untuk menghindari potensi delay.

Continue reading “Rinjani Trekking, Mei 2018 (2)”

Rinjani Trekking, Mei 2018 (1)

DSCF2881
Puncak Rinjani. View dari jalur Sembalun

Berawal dari chit chat di grup sekitar bulan Oktober 2017, akhirnya tgl 5-9 Mei 2018 kemarin kami melakukan trekking ke Gunung Rinjani melalui Jalur Sembalun dan melintas ke jalur Senaru. Ya, rencana perjalanan kami hampir selalu begitu, banyak trip yang awalnya berasal dari obrolan yang ga jelas kemudian ada satu dua yang nenanggapi dengan serius dan bisa direalisasikan.

Setiap kali mendengar nama Rinjani yang terbayang adalah pemandangan indah sepanjang perjalanan dan puncak gunung yang menakjubkan dengan view Danau Segara Anak dan Gunung BaruJari.  Karena keindahan yang terbayang tersebut,  dalam hati saya pernah terlintas kalau suatu saat ingin bisa  menikmati keindahan gn Rinjani, sepertinya seru, apalagi ada banyak trip operator yang menawarkan trip Rinjani ‘premium’, ada guide, porter dll yang siap membantu. Kita hanya perlu menyiapkan dana dan berjalan.  Meski demikian saya tetap realistis dan melupakan keinginan tersebut karena rasanya ga mungkin. Bagaimana saya bisa bertahan dan menikmati perjalanan di gunung selama 4-5 hari. Panas, ga bisa mandi, ga ada HP dll dll.

Hingga suatu hari,  30 April 2016 saat iseng ikut trekking ke Gunung Munara kami bertemu Opa Siswojo Suwandi, sesama peserta trip yang menceritakan tentang pengalamannya merayakan ulang tahun ke 75 di Gunung Rinjani, menunjukkan photo-photonya selama perjalanan dan memberikan link beberapa video tentang perjalanan ke Rinjani. Woowww…semuanya indah dan sangat mengagumkan. Terlebih lagi karena si Opa berusia 75 tahun. Dalam hati saya berpikir kalau Opa yang 75 tahun saja bisa berarti trekk-nya masih OK dan mestinya saya juga bisa dong.

Continue reading “Rinjani Trekking, Mei 2018 (1)”

Nepal Trip, 23-29 Des 2017 (4)

Trekking Day 3 : Ghorepani-Poonhill

Dengan bantuan cahaya flashlight HP kami menyusuri tangga bebatuan menuju puncak poon-hill. Langkah awal saat suhu tubuh masih dingin selalu terasa jauh lebih berat. Setiap 5 sampai 10 langkah saya berhenti untuk mengatur napas sebelum kembali melanjutkan langkah. Sekitar 2 jam kemudian kami tiba di visitor area puncak Poon-hill 3.210 masl dengan disambut angin dingin yang menerpa. Lega sekali ketika tiba di puncak dan melihat di sisi kiri visitor area terdapat kios yang menyediakan minuman panas. Pengunjung dapat menikmati teh, kopi atau air putih panas. Beruntung saya menyimpan jahe merah instant di ransel kamera sehingga saya bisa menikmati hangatnya wedang jahe di puncak poon-hill, lumayan bisa menghangatkan badan. sambil menikmati hangatnya wedang jahe, saya segera memasang tripod dan mencari posisi untuk memotret sunsrise dari poon-hill.

Pemandangan dari puncak poon-hill sungguh luar biasa mengagumkan. Tidak sia-sia menempuh perjalanan sejauh ini, sebanding dengan keindahan yang tersaji di depan mata.

This slideshow requires JavaScript.

Continue reading “Nepal Trip, 23-29 Des 2017 (4)”

Nepal Trip, 23-29 Des 2017 (3)

Nepal Trip, 23-29 Des 2017

before sunset view
Before-sunset. View from Lodge’s backyard at Ghorepani

Ulleri-Ghorepani

Setelah sarapan, jam 08.00 kami segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Pagi itu matahari bersinar sangat cerah. Terlihat beberapa trekker sudah mulai melanjutkan perjalanan. Namun adapula yang masih bercengkerama di lodge-lodge sekitar dan menikmati sarapan. Selain para pengunjung, aktivitas warga juga mulai terlihat. Kuda pengangkut logistik sudah sampai di sekitar penginapan. Pedagang menyerahkan pesanan dari para pelanggannya. Satu-satunya sarana pengangkutan di sini adalah kuda. Selain manusia tentunya. Tidak ada kendaraan lain yang bisa melewati jalan menuju desa-desa di kawasan ini.

IMG_8001

Jalur sejak keluar dari penginapan didominasi tangga batu yang terus menanjak. Di awal perjalanan kali ini saya sebentar-sebentar berhenti untuk mengatur napas. Hiking selalu terasa lebih berat di awal perjalanan. Masih tahap pemanasan. Apalagi jika di awal perjalanan sudah langsung nanjak. Saya bersyukur bahwa kemarin sudah mencicil langkah setidaknya 2 jam perjalanan. Jika kami jadi menginap di Tikedhunga, perjalanan hari ini akan jauh lebih panjang. Tentunya lebih berat. Saat keluar dari penginapan hawa dingin masih sangat terasa. Saya berjalan mengenakan layering lengkap dengan jaket down dan sarung tangan. Setelah berjalan sekitar satu jam suhu tubuh sudah mulai memanas, sinar mataharipun semakin menghangatkan. Saatnya melepas jaket dan menyimpannya ke dalam backpack.

IMG_8002

Continue reading “Nepal Trip, 23-29 Des 2017 (3)”