Belajar Solo Travelling ke Turki, 25 Oct-5 Nov 2018.

Part 1 : Itenerary, Akomodasi, Transportasi dan Nilai Tukar

Yes, finally I did it. Solo travelling 15 hari.  Masih belajar bangetlah, bisa dibilang ini pengalaman solo trip pertama. Meski sebelumnya pernah solo trip ke Nepal, tapi beda. Saat ke Nepal tiba di bandara saya sudah dijemput teman yang juga tour operator. Lalu selama hiking juga didampingi guide/porter. Pulangpun sudah diantar sampai bandara, karena saya ambil paket private hiking trip dari tour & travel.

Nah untuk perjalanan ke Turki kemarin, saya belajar untuk mengatur perjalanan secara mandiri. Mulai dari memilih hotel yang akan ditempati, memilih moda transportasi yang akan saya gunakan sampai menyusun itinerary perjalanan semua saya rencanakan sendiri berdasarkan referensi dari berbagai sumber di internet, dari grup FB Backpacker Intenational, beberapa blog dan juga review dari tripadvisor.com, booking.com dll.

Karena sudah lama saya ingin ke Turki namun belum juga terealisasi, sekitar bulan Februari 2018 saya nekat memesan tiket ke Turki untuk  tgl 25/10-5/11. Bukan tiket promo memang, hanya masih dapat harga early bid dari SQ. Untuk perjalanan yang lebih dari satu minggu saya harus memilih tanggal yang paling pas dengan aktivitas saya agar selama dalam perjalanan tidak banyak terganggu dengan pekerjaan atau hal-hal lainnya. Selain itu saya juga berharap tidak banyak pihak yang terganggu dengan kepergian saya. Dengan kondisi demikian berharap dapat tiket harga promo ke kota yang ingin saya tuju pada tanggal yang sesuai dengan keinginan saya bagai mengharapkan hujan di musim kemarau, jarang-jarang terjadi. Tapi mungkin juga karena saya tidak ahli dan tidak sabar dalam berburu tiket promo.

Berdasarkan referensi skyscanner saya membandingkan harga tiket dengan rute Jakarta-Istanbul vs KL-Istanbul vs Singapore-Istanbul dari berbagai maskapai pada tanggal yang saya tentukan. Untuk Rute Jakarta-Istanbul vs KL-Istanbul harganya terpaut lumayan jauh, sekitar 4-5 juta. Akhirnya pilihan saya jatuh pada SQ dengan rute KL-Istanbul-KL dan transit di Singapore yang saat itu ditawarkan dengan harga MYR 2.183,10 (setara dengan Rp 7.944.238 jumlah yang ditagihkan ke CC saya).  Kemudian untuk penerbangan CGK-KL-CGK saya menggunakan Maskapai Malindo Air dan memperoleh tiket dengan harga Rp 953.900.

Setelah tiket di tangan, bulan selanjutnya saya mulai googling untuk mencari referensi penginapan dan juga menghitung-hitung budget serta  membuat itinerary. Dari berbagai referensi internet yang saya baca akhirnya saya menyusun rencana perjalanan dengan rute hari pertama setelah tiba di Istanbul saya akan langsung ke Kapadokia, kemudian  ke Pamukkale, Selcuk baru terakhir ke Istanbul.  Saya sengaja memilih Istanbul sebagai kota terakhir dalam rute perjalanan karena saat pulang penerbangan international akan berangkat dari Istanbul juga, agar lebih efisien.  Setelah menentukan tanggal berapa di kota apa dan berapa lama, tentu saja saya mulai memilih penginapan yang akan digunakan sekaligus menentukan pilihan moda transportasi untuk menuju ke kota-kota tersebut. Maksudnya agar rencana tidak berubah-ubah. Maklum suka galau orangnya.

Untuk perjalanan dari dan ke Istanbul saya memilih untuk menggunakan penerbangan domestic. Terdapat beberapa pilihan maskapai yang melayani rute penerbangan domestic dari dan ke Istanbul, antara lain Turkish Airline, Pegasus, Onnur dll.  Agar rencana perjalanan sedikit lebih fixed, pada bulan Maret saya sudah reserve penginapan melalui situs booking.com juga sekaligus memesan tiket penerbangan domestic dengan Turkish Airline. Untuk penerbangan domestic rute Istanbul-Kayseri saya dapat dengan harga TL 150 (setara Rp 565.388 tagihan di CC), sedangkan untuk rute Izmir-Istanbul dengan harga TL 117 (setara Rp 440.994). Kurs Citibank saat itu 1 TL = Rp 3.769,51

Setelah tiket perjalanan dan reservasi penginapan beres, selanjutnya tinggal menyusun rencana kegiatan yang akan dilakukan di masing-masing kota. Masih cukup waktu untuk research berbagai pilihan aktivitas dan referensi tempat yang harus didatangi. Sesekali di tengah kesibukan sehari-hari dan trip sana sini saya mencoba menyusun detail itinerary, membaca sharing pengalaman orang lain di grup FB maupun blog. Tentunya juga sambil menghitung-hitung estimasi budget dan mulai menyisihkan dana yang akan dialokasikan sambil kembali meyakinkan diri bahwa it’s ok kok jalan sendiri, insya Allah akan tetap aman dan menyenangkan.

Menjelang bulan Oktober 2018 nilai tukar rupiah makin terpuruk hikss. Saya baru menukarkan uang pada tanggal 9 Oktober 2018. Nilai tukar 1 USD saat itu Rp 15.260; 1 EUR = Rp 17.600  dan 1 MYR = 3.695. Untuk Turkish Lira saya berencana untuk menarik ATM di sana atau menukarkan dari USD/EUR saja. Sedangkan untuk SGD masih ada sisa dari perjalanan sebelumnya yang cukuplah untuk topup EZ link MRT dan jajan.

Setelah sekian lama menunggu dan menyiapkan semuanya akhirnya tibalah hari yang ditunggu-tunggu, 23 Oktober 2018. Saatnya mulai perjalanan 😊

Selasa 23 Oktober 2018; Jakarta – Kuala Lumpur

Pagi ini saya akan menuju Kuala Lumpur dengan penerbangan Malindo Air sekitar jam 06.10 WIB. Waktu tempuh penerbangan Jakarta-Kuala Lumpur sekitar 2 jam. Ada perbedaan waktu 1 jam lebih awal di Kuala Lumpur sehingga akan tiba di kuala lumpur sekitar jam 09.15. Buat saya ini kali kedua menggunakan layanan Malindo menuju Kuala Lumpur. Pertama kali saat perjalanan ke Nepal dan hanya transit di Bandara KLIA tanpa keluar.  Nahh karena saya belum pernah main ke Kuala Lumpur, maka saat pesan tiket Jakarta-Kuala Lumpur saya pilih tanggal 23 agar bisa sekalian jalan-jalan di Kuala Lumpur dan menikmati nasi lemak di sana 😊

Jadi ceritanya ini juga kali pertama buat saya untuk travelling ke Kuala Lumpur setelah 5 tahun yang lalu batal dan terpaksa menyobek tiket penerbangan ke KL. Lokasi penginapan yang saya pilih, Resort hostel City Inn terletak di Gedung Apartement Mercu Summer Suit yang berlokasi tidak terlalu jauh dari stasiun monorail Bukit Nanas dan stasiun LRT Dang Wangi. Saya menginap di Female Dorm dengan biaya sebesar MYR 50 per malam.

Dari Bandara KLIA saya naik KLIA-Express menuju KL Sentral dengan biaya MYR 55 untuk sekali perjalanan. Selanjutnya dari KL Sentral saya membeli kartu MRT, Touch & Go dengan harga MYR 20,20 dan mengambil LRT Rute Kelana Jaya (Kelana Jaya Line) yang melewati stasiun Dang Wangi. Setibanya di Stasiun Dang Wangi saya berjalan kaki menuju Penginapan. Karena belum saatnya check in sementara saya menitipkan barang bawaan dan menunggu waktu check in di Coffee shop yang terletak di lobby Apartemen sambil membalas beberapa email. Setelah selesai check in dan menyimpan barang bawaan selanjutnya saya mulai mengeksplore Kuala Lumpur selama 2 hari.

Kamis-Jum’at 25-26 Oktober 2018; Kuala Lumpur-Singapore-Istanbul-Kayseri

Sekitar jam 05.00 pagi saya sudah check out dari penginapan dan berjalan kaki menuju stasiun Dang Wangi. Seingat saya kereta mulai beroperasi jam 05.00. Sayangnya saat saya tiba di stasiun kereta belum beroperasi. Mereka baru memulai layanan jam 06.00. Stasiun masih sangat sepi. Saya hanya bertemu satu penumpang lain, seorang ibu dari Scotlandia yang juga solo travelling dan akan ke bandara. Dari Stasiun Dang Wangi saya menuju KL Sentral dan dilanjutkan menggunakan KLIA Express menuju Bandara. Saat saya tap kartu touch & go untuk masuk peron terdapat pesan error, ternyata saldo kartu saya sudah habis terpakai. Pilihan apakah saya akan top up atau membeli token sekali perjalanan. Untuk top up minimum MYR 10 sedangkan token sekali perjalanan MYR 2. Berhubung ini hari terakhir di KL maka saya memilih untuk membeli token sekali perjalanan.

Penerbangan menuju Singapore terjadwal jam 10.25 tapi sekitar jam 7 saya sudah tiba di Bandara. Masih cukup waktu untuk bersantai dan menikmati sarapan. Sebelum masuk bandara saya menuju ke Food Garden, foodcourt Bandara KLIA untuk menikmati nasi lemak. Penerbangan SQ dari KLIA menuju Changi dijadwalkan akan tiba di Singapore pada jam 11.35. Yup hanya butuh sekitar 1 jam 10 menit dari KLIA menuju Changi. Jadwal penerbangan saya dari Changi ke Istanbul jam 01.45 dini hari tgl 26 dan akan tiba di Istanbul pada jam 07.45 pagi hari. Sepertinya hanya 6 jam perjalanan saja ya, tapi jangan lupa ada perbedaan waktu 5 Jam antara Singapore dengan Istanbul sehingga total waktu penerbangan sekitar 11 Jam.

Sebetulnya ada banyak pilihan jam penerbangan dari KL-SIN agar tidak terlalu lama transit. Tapi lagi-lagi saya sengaja ambil transit yang  lama karena mau sekalian main di Singapore. Ceritanya trip ogah rugi. Rencana utama trip ke Turki, tapi sekalian ke KL dan ke Singapore dengan biaya fligt yang sama, tinggal tambah biaya penginapan, transportasi lokal dan uang jajan heheheh.

Penerbangan dari Kuala Lumpur-Singapore, Singapore-Istanbul semua berjalan lancar dan tepat waktu. Proses imigrasi dan pengambilan bagasi juga semua tidak banyak antrian. Oh ya untuk kunjungan ke Turki bagi pemegang Passport Indonesia hanya perlu Visa on Arrival yang dapat diurus secara online sebelum keberangkatan.  Biaya pembuatan e-Visa total USD 26,05 (Visa Fee USD 25 plus service fee 1,05) yang dibayar menggunakan kartu kredit (tagihan CC saya Rp 411.798). Proses pembuatannyapun sangat mudah. E-Visa berlaku 30 hari sejak tanggal kedatangan. Saya mengisi permohonan e-Visa tanggal 22 malam hari sebelum berangkat ke Kuala Lumpur namun lupa mencetak dokumennya. Hal ini sempat membuat saya khawatir karena saat di Kuala Lumpur saya juga tidak bisa print dokumen visa tersebut. Jangan-jangan nanti harus menunjukkan print outnya, bagaimana kalau nanti pas sampai Istanbul HP saya low bat dan mati. Mungkin terpaksa harus bayar lagi untuk pengurusan Visa on Arrival secara langsung di counter.

Jam 07.45 waktu Turki itu masih sangat pagi, karena subuh di sana sekitar jam 06.05 dan matahari terbit jam 7.40 sehingga saat pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandara belum terlalu banyak aktivitas. Setibanya di Istanbul benar saja HP saya low bat tinggal 2% saja karena di pesawat tidak ada USB slot untuk ngecharge. Berhubung tidak membawa print out saya ke counter Visa dengan maksud untuk minta dicetakkan document visanya. Namun ternyata hal tersebut tidak diperlukan. Saya langsung diarahkan ke jalur antrian immigrasi. Tidak ada antrian lain selain penumpang dari pesawat yang kami tumpangi. Saat di Imigrasi HP saya masih berbaik hati bisa menyala dengan battery 1% sehingga bisa menunjukkan document e-Visa di HP. Alhamdulillah, sejauh ini semua berjalan sesuai rencana.

Selesai proses imigrasi saya langsung menuju toilet untuk cuci muka dan gosok gigi. Setidaknya sedikit menyegarkan diri setelah kebanyakan tidur di pesawat. Selanjutnya saya menuju antrian bagasi yang ternyata juga sudah mulai keluar. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu koper saya. Setelah bagasi siap saya segera keluar bandara dan mencari tempat untuk sarapan juga numpang ngecharge HP. Itung-itung sekalian istirahat sambil menunggu penerbangan selanjutnya.

Semula saya berniat untuk menarik uang Turkish Lira di ATM Bandara, sayangnya saya lupa info ke bank kalau saya akan melakukan perjalanan ke luar negeri. Transaksi penarikan tunai di ATM Bandara sukses ditolak karena tidak ada konfirmasi dari bank. Oh ya saya menggunakan ATM CIMB Niaga yang ada logo Master Card. Setelah gagal Tarik tunai, saya menukarkan USD 50 ke Money Changer di Bandara. Nilai Tukar 1 USD = 5,0720 TL, sehingga USD 50  setara dengan  TL 253,60 setelah dipotong komisi dll saya dapat TL 245,50. Cukuplah untuk sarapan dan nanti membayar biaya shuttle bis dari Kayseri ke penginapan di Goreme. Jika saya convert ke nilai rupiah saat saya tukar USD , 1 USD = Rp 15.260, sehingga 1 TL kurang lebih setara dengan Rp 3.108

Jam 09.00 pagi waktu Istanbul saya sudah di luar Bandara dan duduk manis menikmati sarapan pagi sekaligus numpang charge HP di Simit Sarayi café. Saya tidak keluar dari area bandara karena akan langsung melanjutkan penerbangan ke Kayseri pada jam 12.20 waktu setempat. Lagi-lagi saya memberikan jeda waktu yang cukup lama dari jadwal ketibaan saya di Istanbul dengan jadwal keberangkatan ke Kayseri. Saya tidak ingin terburu-buru saat di Bandara juga agar bisa sedikit beristirahat di Bandara untuk menikmati sarapan.

Sekitar jam 10.30 saya menuju ke terminal domestik yang letaknya bersebelahan dengan terminal internasional, jalan kaki sekitar 15 menit saja. Karena sudah check in online sebelumnya saya langsung ke antrian drop bagasi. Kalau sebelumnya dalam penerbangan international SQ memberikan jatah bagasi 30 KG, untuk penerbangan domestic Turkish Airline hanya memberikan jatah 15 KG. Tapi masih aman, timbangan bagasi hanya 15KG lebih sedikit saja.

Penerbangan dari Istanbul menuju Kayseri ditempuh dalam waktu 1 jam 25 menit. Begitu keluar dari pesawat sebelum masuk bandara Kayseri hawa dingin cukup terasa. Penumpang lain sudah siap dengan syal dan jaket tebalnya, saya masih mengenakan kaos dan parka tipis karena down jaket saya simpan di bagasi. Sementara cukuplah menggunakan pashmina untuk sedikit mengurangi hawa dingin.

Dari Bandara Kayseri saya akan melanjutkan perjalanan menuju penginapan di Goreme, Kapadokia. Karena tidak ada transportasi umum dari Bandara Kayseri menuju Goreme, sebelum perjalanan saya sudah memesan layanan shuttle bis yang akan menjemput di Bandara dan mengantar ke Penginapan dengan biaya 30TL. Shuttle bis ini minibus VW, semacam ELF yang berisi sekitar 12-13 penumpang. Perjalanan dari Bandara menuju Penginapan ditempuh dalam waktu sekitar 1,5 jam termasuk mengantar penumpang lain. Sekitar jam 16.00 saya sudah tiba di penginapan dan mengurus check in.

Di Goreme saya menginap di Whisper Cave House dan memilih female dorm.  Kamar female dorm di sini lebih bagus dibanding dorm di Kuala Lumpur.  Ini semacam kamar hotel yang berisi 3 tempat tidur single dan kita bisa memesan hanya satu bed. Kamar mandi dan toilet ada di luar kamar dan digunakan bersama-sama dengan tamu di kamar dorm lainnya. Saya menginap 2 malam di sini dengan biaya sebesar EUR 15. Selama 2,5 hari di Goreme saya mengikuti hot air ballon tour dengan biaya EUR 130 dan juga green tour dengan biaya EUR 33 yang juga saya pesan melalui hotel. Selain itu saya juga punya waktu untuk keliling sendiri menikmati sejuknya kota kecil Goreme.

Selama di Goreme untuk pembayaran tour dan hotel menggunakan EUR, sedangkan untuk makan dan belanja menggunakan Turkish Lira. Kadang juga transaksi EUR jika ada kembalian niali EUR kecil kembalian akan dikonversi ke dalam TL, atau sebaliknya jika transaksi TL bisa dikoversi menjadi EUR. Rata-rata nilai konversi 1 EUR = 6 TL. Di Goreme saya juga menukarkan USD 50 dan dihargai TL 265, lebih bagus dibanding saat menukar di Bandara. 1 TL setara dengan Rp 2.879,24

Minggu, 28 Oktober 2018; Goreme – Pamukkale

Hari Minggu ini saya akan mengikuti green tour seharian lalu sekitar jam 19.00 akan melanjutkan perjalanan menuju Pamukkale. Seperti kebanyakan batas waktu check out hotel lainnya, waktu check out di whisper cave hotel juga sekitar jam 10.30, sehingga sebelum ikut tour saya sudah check out dan menitipkan barang-barang di lobby receptionist.

Setelah selesai aktivitas green tour jam 17.00 saya menuju ke agen bus Metro untuk menitipkan barang bawaan. Saya menunggu jadwal bis jam 19.20 dengan menikmati sunset di bukit sunset yang letaknya tidak terlalu jauh dari otogar (terminal bis) kemudian makan malam. Selesai makan malam saya kembali ke otogar dan menunggu kedatangan bis. Sekitar jam 20.00 bis sudah berangkat menuju Pamukkale. Tiket bis juga saya pesan melalui hotel dengan harga TL 85. Perjalanan dari Goreme menuju Pamukkale membutuhkan waktu sekitar 8-9 jam termasuk istirahat. Saya memanfaatkan waktu perjalanan Goreme-Pamukkale untuk istirahat, tidur di bis, apalagi perjalanan malam hari tidak banyak yang bisa dilihat dalam kegelapan.

Sekitar jam 4.30 pagi hari, bis yang saya tumpangi berhenti di pinggir jalan dan kondektur memberitahu penumpang yang akan turun di Pamukkale sudah tiba di tujuan. Ketika kami turun dari bus di pinggir jalan tersebut disambut ucapan selamat pagi dari sopir mobil VW Van sejenis ELF yang sudah menunggu dan akan mengantar kami ke tempat lain. Sekitar 30 menit kemudian minibus berhenti di tempat agen Metro dan mempersilahkan kami para penumpang untuk masuk. Beberapa penumpang mendatangi pemilik agen bus yang juga dibantu teamnya untuk meminta informasi mengenai Pamukkale dan transportasi. Pemilik agen bus memberikan informasi yang dibutuhkan sekaligus menawarkan paket tour Pamukkale atau tiket bus untuk perjalanan ke kota lain.

Belakangan kami tahu bahwa minibus yang menjemput kami di pinggir jalan saat bis berhenti adalah layanan yang disediakan oleh pemilik agen bus Metro di Pamukkale. Bis Metro dari Goreme ke Pamukkale berakhir di otogar Denizli. Dari Otogar menuju Pamukkale bisa menggunakan Dolmus dengan biaya TL 4. Namun karena bis tiba dini hari dan belum ada dolmus beroperasi, pemilik agen bus Metro Pamukkale memberikan layanan tambahan jemputan dari Denizli sampai ke kantor agen  di Pamukkale, sekaligus menjaring calon customer baik untuk paket tour maupun tiket bus keberangkatan dari Pamukkale. Meski kita tidak membeli paket tour ataupun tiket bus, mereka tetap berbaik hati memberikan informasi seputar Pamukkale dan transportasi yang bisa digunakan. Saya sendiri menanyakan jadwal kereta dan transportasi menuju stasiun.

Di Pamukkale saya akan menginap di Ozbay Hotel yang saya pesan melalui booking.com dengan harga EUR 24/malam. Berbeda dengan di Goreme, di sini saya memang memesan kamar hotel fullboard, bukan dorm. Dari situs booking.com saya terhubung dengan nomor whatsapp milik Ali yang konon dari pihak hotel dan sempat berkomunikasi sebelumnya. Ketika saya menanyakan bagaimana saya menuju hotel jika dari Goreme ke Pamukkale saya akan menggunakan bus Metro. Ali hanya menjawab bahwa dia akan menjemput saya for free.

Pagi itu setelah saya tiba di kantor agen bus Metro, saya mengabari Ali kalau saya sudah di kantor agen bus Metro. Karena masih sangat pagi , masih gelap baru 30 menit kemudian Ali membalas. Tidak lama kemudian datang seseorang yang menjemput saya dengan mobil sedannya. Hanya butuh satu menit sepertinya mobil yang menjemput saya langsung parkir dan mempersilahkan saya masuk ke ruangan kantor mereka. Di sinilah saya bertemu Ali. Setelah bertegur sapa dan berbasa basi sejenak Ali kembali menawarkan berbagai paket tour Pamukkale. Dengan sopan saya menolak tawaran Ali. Di Pamukkale saya hanya berencana pergi ke Hierapollis dan Traventine sendiri. Apalagi saya sudah memilih untuk menginap di Pamukkale, yang menurut info dari booking.com; hotel yang saya pilih letaknya tidak jauh dari tempat yang akan saya tuju.

Saat hari sedikit terang saya keluar dari kantor Ali dan melihat-lihat sekitar, sedikit orientasi jalanan ceritanya 😊. Saya baru ngeh kalau Ali bukan dari pihak hotel, tetapi dari Agen tour setelah melihat plang kantor dan tidak ada papan nama hotel. Semula saya mengira penjemputan memang dari pihak hotel. Di sepanjang jalan Pamukkale banyak terdapat restaurant, toko-toko souvenir dan agen tour. Saya berjalan sampai ke depan kantor Metro lagi yang ternyata memang sangat dekat. Hanya berada di sisi jalan yang berbeda. Saya sengaja berjalan ke arah kantor Metro karena nantinya saya akan naik Dolmus untuk menuju ke Stasiun Kereta.

Setelah berjalan-jalan sebentar dan bertegur sapa dengan seorang bapak tua yang juga menawarkan paket tour serta seorang ibu yang mempersilahkan saya singgah di restaurantnya untuk menikmati sarapan, saya kembali  ke kantor Ali. Sekitar jam 07 Ali bilang kalau hotel sudah buka dan mempersilahkan saya untuk menuju hotel dan memberikan petunjuk jalannya. Oke, fixed kalau mereka menjemput bukan untuk mengantar saya ke hotel, tetapi untuk menawarkan paket tour hehehe.

Saya berjalan sesuai arah yang ditunjukkan Ali untuk menuju hotel. Tidak terlalu jauh sebetulnya, hanya saja jalan sedikit menanjak dan saya membawa banyak barang bawaan. Sekitar 10-15 menit kemudian saya sudah tiba di Ozbay Hotel. Semula saya hanya ingin menitipkan tas dan numpang ke toilet terlebih dahulu, tidak berharap untuk bisa masuk kamar.  Tapi ternyata saat saya datang dan menyebutkan nama saya langsung diantar ke kamar dan mempersilahkan saya masuk. Check in baru diurus kemudian. Alhamdulillah bisa istirahat sejenak di kamar hotel yang nyaman dan mandi sebelum jalan-jalan ke Hierapolis.

Di Pamukkale saya hanya menginap semalam dan keesokan harinya saya akan melanjutkan perjalanan menuju Selcuk. Saya berencana untuk naik kereta pagi ke Selcuk, sekitar jam 09.00

Senin, 29 Oktober 2018; Pamukkale – Selcuk

Berhubung ada pekerjaan yang harus saya selesaikan, hari ini saya tidak bisa check out pagi-pagi. Saya berusaha menyelesaikan pekerjaan sampai sekitar jam 10.30, sesuai batas waktu check out hotel. Sayangnya otak tidak bisa konsentrasi penuh karena kepikiran kalau saya harus segera beres-beres dan melanjutkan perjalanan ke Selcuk. Saya terpaksa menyerah hehehe. Jam 10.30 saya segera beberes dan menuju receptionist untuk check out. Saya tahu batas waktu untuk sarapan pagi di hotel sampai jam 10, tapi setelah check out saya nekat ke restaurant dan bertanya apakah masih bisa sarapan. Bersyukur ibu pemilik hotel mengiyakan pertanyaan staffnya dan meminta untuk menyiapkan sarapan untuk saya. Semula saya berharap saya bisa menyelesaikan pekerjaan sambil sarapan dan akan melanjutkan perjalanan kemudian. Tapi lagi-lagi ketika mengerjakan sesuatu yang butuh konsentrasi penuh sedangkan otak dan pikiran tidak bisa fokus yang ada hanya menyia-nyiakan waktu dengan bengong di depan komputer.

Akhirnya setelah selesai sarapan dan berpamitan dengan pemilik hotel saya memutuskan untuk keluar dan melanjutkan perjalanan. Dari hotel saya berjalan kaki menuju ke depan kantor Metro, tempat di mana Dolmus yang menuju terminal Denizli lewat. Saya akan menuju Stasiun Kereta Denizli yang letaknya ada di sebrang terminal bis Denizli. Dari Pamukkale ke Terminal Denizli kira-kira 30 menit naik Dolmus dengan ongkos 4 TL.

Penumpang turun di basement terminal Denizli. Di otogar ini banyak bus-bus antar kota dari dan ke Denizli. Untuk menuju stasiun saya masuk ke Gedung terminal dan keluar lagi, lalu menyebrang jalan. Lumayan sekitar 10-15 menit jalan dari terminal ke stasiun kereta. Jadwal kereta ada yang sekitar jam 12, saya berharap belum ketinggalan kereta yang sekitar jam 12. Kalau ketinggalan ada lagi jadwal selanjutnya sekitar jam 14.  Sampai di stasiun saya menuju loket dan membeli tiket dengan harga 17,5 TL. Tidak lama kemudian kereta datang dan saya juga penumpang lain segera naik.

Sebelum naik kereta saya bolak balik cek tiket untuk memastikan ini tidak ada nomor gerbong dan nomor tempat duduknya. Mau bertanya ke petugas terlalu malas saya. Akhirnya saya ikut naik dan memperhatikan penumpang lain yang sepertinya asal duduk saja melihat bangku kosong, jadi saya ikutan.

Kereta cukup nyaman, mirip kereta Argo Parahyangan atau Taksaka executive deh kalau di Indonesia. Kereta berjalan dan berhenti untuk menaikkan serta menurunkan penumpang di beberapa stasiun. Saya lupa tidak mengecek peta jalur kereta  untuk melihat Selcuk nanti stasiun ke berapa dan berapa lama waktu perjalanan. Beruntung tidak lama kemudian ada petugas yang mengecek karcis penumpang. Pengecekan karcis penumpang menggunakan mesin pindai yang mirip dengan mesin EDC bank. Kepada petugas saya menanyakan kereta akan sampai stasiun Selcuk jam berapa. Setelah selesai pengecekan karcis penumpang di gerbong yang saya naiki, petugas kembali menghampiri saya dan menuliskan angka 16.00 di karcis saya. Upss.. ternyata butuh sekitar 4 jam naik kereta dari Denizli menuju Selcuk. Baiklah, saya bisa tidur atau membuka laptop untuk melanjutkan pekerjaan. Bersyukur bangku sebelah saya kosong dan di gerbong yang saya naiki belum terisi penuh. Saya memilih untuk mengisi waktu dengan menyelesaikan pekerjaan yang tadi tertunda. Alhamdulillah pekerjaan bisa selesai dalam perjalanan di kereta. Masalahnya jelas, saat di hotel otak saya memikirkan kalau saya harus segera siap-siap, check out dan melanjutkan perjalanan, khawatir tertinggal kereta dst. Saat di kereta saya lebih santai karena 4 jam lagi baru akan tiba di tempat tujuan jadi bisa lebih konsentrasi.  Setiap stasiun pemberhentian hampir selalu ada penumpang yang naik dan turun, hingga akhirnya kursi penumpang di gerbong yang saya naiki penuh dan ada beberapa penumpang yang berdiri di dekat sambungan kereta.

Benarlah tepat jam 16.00 kereta berhenti di stasiun Selcuk, kota tua yang cantik. Saya segera turun. Saya keluar stasiun dan mengecek maps untuk mencari lokasi Nicea hotel yang sudah saya pesan sebelumnya. Saat saya mencoba mengecek google maps ada dua orang bapak-bapak menghampiri saya dan bertanya apakah ada yang bisa dibantu. Saya bilang kalau saya sedang cek map untuk menuju Nicea hotel. Bapak tersebut menunjukkan arah jalan yang harus saya tempuh. Selain itu bapak satu lagi seorang sopir taxi memberikan kartu namanya dan menawarkan kalau besok memerlukan transportasi untuk ke Ephesus atau tempat lain agar menghubungi beliau. Saya mengucapkan terima kasih dan segera berjalan menuju arah hotel. Lokasinya hotel tidak terlalu jauh juga dari stasiun, sekitar 10 menit jalan kaki.  Dari stasiun menuju hotel saya melewati deretan restaurant dan toko-toko dengan bangunan yang cantik. Terlihat beberapa orang duduk di restaurant dan menikmati teh atau kopi sambil berbincang. Suasana sore di kota tua yang sangat menyenangkan.

Di Nicea hotel saya akan menginap 2 malam. Di sini saya kembali memesan female dorm melalui situs booking.com dengan harga EUR 26 untuk 2 malam.  Setelah selesai proses check in saya segera diantar menuju kamar dimaksud. Wahh ternyata ini adalah kamar hotel biasa dengan dua 2 single bed dan kamar mandi juga di dalam kamar. Hanya saja saya bisa memesan hanya untuk 1 bed dan menyisakan 1 bed untuk tamu perempuan lain, jika ada. Beruntung malam itu saya hanya sendiri yang menginap di kamar tersebut. Jadi membayar harga dorm tapi menikmati kamar hotel sendiri. Tapi malam berikutnya ada tamu lain, seorang translator dari Beijing yang menjadi teman sekamar saya.

Dalam itinerary yang saya buat rencana saya hari ini akan ke desa Sirince. Namun karena saya sampai di Selcuk sudah terlalu sore akhirnya saya memilih menghabiskan sore itu dengan berjalan-jalan di sekitar hotel dan stasiun, lalu menikmati makan malam. Hari berikutnya saya akan mengikuti tour Ephesus dengan biaya EUR 38 kemudian pergi ke Desa Sirince sendiri dengan menggunakan Dolmus. Ongkos Dolmus TL 4 sekali jalan.

Saat di Selcuk saya  kembali mencoba menarik uang TL dari ATM dan ternyata bisa. Mungkin bank sudah tahu kalau saya ada di Turki karena sebelumnya sempat login dari internet banking untuk mengecek apakah ada pendebetan rekening saat saya gagal menarik uang di ATM Bandara. Saya dua kali menarik uang masing-masing 500 TL di hari yang berbeda dan di rekening saya terdebet sebanyak Rp 1.370.134,31 dan Rp 1.380.733,40. Kalau dihitung-hitung kurs 1 TL = 2.740,26 dan 2.761,47. Ternyata lebih menguntungkan menarik uang tunai TL dibanding menukarkan Rupiah ke USD/EUR lalu menukarkan kembali ke TL.

Kamis, 1 November 2018; Selcuk – Izmir – Istanbul

Setelah menikmati Selcuk selama 2 malam 1 hari, pagi ini saya akan melanjutkan perjalanan menuju Istanbul. Untuk menuju Istanbul saya akan terbang dari Bandara Izmir menggunakan layanan maskapai Turkish Airline. Jadwal penerbangan saya jam 09.15 sehingga saya harus berangkat pagi-pagi dari Selcuk menuju bandara. Dari Selcuk menuju Bandara bisa menggunakan Kereta atau menggunakan layanan Shuttle bus yang bisa dipesan dari hotel.  Saat saya menanyakan jadwal kereta ke Ismail, Pemilik hotel,  dia tidak begitu yakin dengan jadwal kereta pagi karena sering berubah katanya. Tapi mungkin ada yang sekitar jam 6. Jadilah saya mengecek ulang dengan meminta jadwal kereta ke petugas di loket stasiun kereta.  Benar ada jadwal kereta jam 6.15. Saya memilih menggunakan kereta untuk menuju Bandara. Tiket kereta hanya 6 TL sedangkan ongkos shuttle minibus ke bandara 30 TL.

Dari sore kemarin Ismail sudah menawarkan kalau saya butuh bantuan untuk diantar ke stasiun bilang saja nanti tunggu di lobby sekitar jam 5.30. Pagi ini dari jam 5 saya sudah siap di lobby. Saya tidak berharap untuk diantar menuju ke stasiun. Tapi saat saya sedang bersiap untuk menulis notes dan mengembalikan kunci, Ismail datang. Dia melihat jam dan bilang pagi banget, khan kemarin saya bilang jam 5.30. Dan dia tetep kekeuh mengantar dan membawakan koper saya ke stasiun. Sampai stasiun tentu saja masih sepi, belum ada penumpang lain dan loket juga belum buka. Meskipun saya bilang tidak apa-apa ditinggal saja saya tidak masalah nunggu sendiri, saya bilang juga kalau udah cek jadwal kereta ke petugas kemarin dan pagi ini ada jadwal, Ismail tetap memastikan dan bilang kalau ga ada kereta dia bisa telponin shuttle bis untuk ke bandara karena kereta kadang tiba-tiba berubah. OK, baiklah.  Karena loket belum buka, dia ketok-ketok untuk memanggil petugas dan memastikan jadwal kereta pagi itu ada atau tidak. Ismail menemani saya sampai loket buka dan setelah saya beli tiket baru kemudian dia balik ke hotel. Terima kasih atas kebaikannya 😊

Perjalanan kereta dari Selcuk menuju Bandara ditempuh dalam waktu 1 jam.  Stasiun Kereta sudah terintegrasi dengan bandara, sehingga saat turun kereta masuk ke terminal keberangkatan dengan berjalan kaki.

Penerbangan Turkish Airline dari Izmir menuju Istanbul dalam waktu 1 jam 15 menit. Menurut jadwal jam 10.30 sudah mendarat di Istanbul. Pesawat mendarat di Istanbul sesuai Jadwal. Setelah selesai dengan bagasi, saya menuju pintu masuk peron kereta untuk ke kota Istanbul. Di sini saya membeli Istanbulkart, kartu yang akan saya gunakan untuk naik kereta dan bis di Istanbul. Pembelian Istanbulkart hanya bisa dilakukan melalui mesin. Setelah 2 kali mencoba dan semua mesinnya berbahasa Turki (saya tidak tahu cara mengubah pilihan bahasanya) akhirnya saya minta tolong sama mba-mba Turki yang sudah selesai top-up kartu Istanbulkart. Meski komunikasi dengan Bahasa tubuh, karena dia juga tidak berbahasa Inggris, saya bisa memperoleh kartu Istanbulkart dengan harga 20 TL dan didalamnya sudah terisi 14 TL. Saya segera masuk peron dan melihat map untuk menuju ke Sultan Ahmed saya harus turun di mana.

Dari map terlihat yang ada “persimpangan” dengan rute tram menuju Sultan Ahmed adalah stasiun Zeytinburnu lalu melanjutkan perjalanan menggunakan Tram dan turun di stasiun Sultan Ahmed, yang berada di sekitaran Blue Mosque. Saat masuk stasiun tram saya terpaksa Tap 2x karena saat tap pertama saya mendorong koper saya lalu pintu terkunci, jadilah saya tap lagi dan masuk.

Dari stasiun Sultan Ahmed saya berjalan untuk mencari rute menuju hotel. Saat berjalan saya bolak balik lihat map untuk memastikan arah yang saya tempuh apakah sudah benar yang menuju hotel atau bukan. Saat itu ada cowok yang menyapa dan seperti biasa bertanya apa ada yang bisa dibantu. Saya bilang kalau saya lagi lihat map dan mencari rute menuju hotel. Dia bilang coba lihat mapnya nanti saya tunjukkan. Cuman setelah saya tunjukkan map dan HP masih di tangan saya dia bilang sini  HPnya kasih saya, coba saya cek. Saya bilang ga usah deh ntar saya cari sendiri. Mungkin dia benar mau membantu, cuman saya sedikit kepikiran jahat ntar kalau HP udah dikasihin terus dia lari gimana hahahaha. Siapa tahu khan 😀

Setelah berjalan sebentar saya melihat ada kantor tourist information, jadilah saya belok dan masuk ke kantor informasi turis ini. Minta peta dan sekaligus bertanya lokasi hotel yang saya pesan, Agora Guest house. Setelah memperoleh informasi yang diperlukan, saya segera berjalan mengikuti petunjuk dan setelah melewati area Masjid biru kembali bertanya pada polisi yang ada di sekitar untuk memastikan jalan yang saya lalui sudah benar. Jarak stasiun Sultan Ahmed – hotel lumayan agak jauh. Apalagi untuk pertama kali. Mungkin sekitar 30 menit berjalan.

Di Agora Guest house saya memesan female dorm dengan harga EUR 60 untuk 4 malam. Kamar Dorm di sini sama seperti dorm pada umumnya.  Satu ruangan agak luas yang berisi 4 ranjang bertingkat, dengan loker untuk menyimpan barang di bawah tempat tidur. Kamar Mandi dan toilet berada di lantai bawah dan digunakan untuk semua tamu dorm.

Selama di Istanbul saya top up istanbulkart saya 2x masing-masing 5TL karena saat tap kartu ada pesan dalam bahasa turki dan pintu tidak bisa terbuka, ternyata saldo tidak cukup. Di sini saya juga sempat menukarkan EUR 20 dan dihargai TL 120,5 (1 TL setara dengan 2.921,16)

Senin 5 November 2018, Istanbul – Singapore – Kuala Lumpur – Jakarta

Libur tlah usai, saatnya pulang dan kembali beraktivitas seperti biasa.  Jadwal kepulangan saya dengan penerbangan SQ menuju Kuala Lumpur dari Istanbul jam 14.25. Dari hotel menuju bandara saya memilih layanan Shuttle bus yang saya pesan melalui hotel dengan harga EUR 7. Saya memesan shuttle jam 10.30 dengan harapan tiba di bandara sebelum jam 12, agar tidak terburu-buru untuk mengurus check in dan immigrasi.

Seperti saat keberangkatan, waktu tempuh dari Istanbul menuju Singapore sekitar 11 jam. Penerbangan saya dijadwalkan tiba di Singapore jam 5.45; lalu jam 8.30 dari changi menuju Kuala Lumpur. Transit sekitar 2,5 jam waktu yang cukup untuk pindah terminal, sholat dan sedikit istirahat. Sekitar jam 9.30 pesawat sudah mendarat di Kuala Lumpur.

Saya memesan tiket untuk perjalanan KL-Jakarta jam 20.30. Semula saya bermaksud untuk singgah ke Putra Jaya. Tapi setelah tiba di Kuala Lumpur dan mengecek pilihan transportasi menuju Putrajaya hanya ada menggunakan KLIA transit dengan biaya MYR 55/sekali jalan atau MYR 100/PP, saya mengubah rencana dan menghabiskan waktu di Mitsui Outlet Park dengan menggunakan layanan free shuttle dari Bandara KLIA.

Sekitar jam 22 saya sudah tiba di Bandara Soekarno Hatta, Setelah selesai proses imigrasi dan pengambilan bagasi segera pulang dengan menggunakan taxi. Alhamdulillah semua berjalan lancar dan sesuai rencana dengan sedikit penyesuaian saat ada hal-hal urgent yang harus dikerjakan. Akomodasi yang dipilih hanya berdasarkan review dan rating di tripadvisor atau booking.com semua sesuai expectasi, bahkan ada yang lebih baik. Akhirnya saya membuktikan bahwa travelling sendiri ke luar negeri tetap bisa seru dan menyenangkan. Innallaha ma anna, insya Allah dan semoga ada kesempatan lain, Aamiin.

Author: triyani

Registered Tax Consultant, Lived in Serpong.

5 thoughts on “Belajar Solo Travelling ke Turki, 25 Oct-5 Nov 2018.”

  1. Maa syaa Allah keren mba, sy jadi semangat mau solo traveling ke turki nih ,udah lama mau solo traveling tp masih takut hehehe
    Mba, bagi tips nya do & dont utk solo traveling ke turki.
    Makasih mba. 💞

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s